menghafal al quran
Banyak sekali hadis yang memberitahukan betapa besar pahala dan kedudukan seorang hafiz Quran di sisi Allah. Namun, saya ingin membahas masalah ini bukan dari sisi pahala, melainkan dari sisi kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia. Mengapa kita perlu menghafal Al Quran (minimalnya sebagian saja, syukur Alhamdulillah kalau mampu seluruhnya)? Mengapa kita perlu mengajarkan dan mendorong anak-anak kita untuk menghafal Al Quran?
Jawabannya, menurut penjelasan dari buku Hafezan-e Nur*, adalah demi mencapai ketenangan dalam kehidupan kita sendiri. Menghafal Al Quran yang ideal bukanlah proses menghafal ‘mulut’ (menghafal bunyi-bunyian, tanpa paham maknanya), apalagi proses untuk gaya-gayaan, “Anak saya sudah hafal 20
surat loh, padahal usianya baru
lima tahun!”
Menghafal Al Quran yang ideal adalah membaca ayat-ayat itu dengan tajwid yang benar, memahami makna kata-demi-kata, lalu berusaha ‘menyimpannya di dada’. Menghafal Al Quran adalah menyimpan kata-demi-kata dari “
surat cinta” Sang Kekasih di dalam benak dan hati kita. Ketika ayat-ayat yang berisi petunjuk menjalani kehidupan itu telah bersemayam dengan benar di dada kita, insya Allah, pencerahan-demi-pencerahan akan datang, ketenangan, dan rahmat akan menaungi kehidupan kita.
“…Wa nunazzilu minal Qurani maa huwa syifaaun wa rahmatun lil mu’miniin”
“… dan Kami turunkan dalam Al Quran penyembuh dan rahmat bagi orang yang beriman”
(Al Isra:82).
Tentu saja, kita tetap bisa mendapatkan (sebagian) rahmat dan ketenangan itu hanya dengan membaca dan mempelajari ayat-ayat Al Quran, tanpa perlu menghafalnya. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa dengan menghafalnya, kita akan masuk ke sebuah ‘dunia’ lain dari Al Quran. Kita akan dibawa ke sebuah keteraturan (karena proses menghafal Al Quran membutuhkan keteraturan program/jadwal), semacam ‘keterikatan khusus’ dengan ayat-ayat yang sedang kita hafalkan itu.
Kalaupun kemudian ayat-ayat yang sudah kita hafalkan itu akhirnya ‘terlupakan’, ketika kita mendengar ayat-ayat itu dibacakan oleh orang lain, kita akan merasa ‘dekat’ dengannya, dan ayat-ayat itu bukan lagi kalimat-kalimat ‘bahasa planet’ yang masuk telinga kiri dan keluar begitu saja dari telinga kanan.
Dengan menghafalkan Al Quran, kita akan merasakan bahwa ayat-ayat itu adalah kalimat-kalimat cinta dari-Nya. Hidup seperti apakah yang lebih indah daripada hidup dengan dinaungi oleh rasa cinta kepada-Nya?
Selanjutnya, marilah kita memandang kondisi sosial-masyarakat di sekitar kita yang begitu bobrok: pornografi merebak luas, korupsi merajalela, pemerkosaan, pembunuhan, penipuan menjadi berita sehari-hari …
Apa yang bisa kita lakukan dalam melindungi keluarga kita sendiri agar tidak terpolusi oleh berbagai fitnah dan maksiat itu? Cara terampuh adalah dengan mengenalkan anak-anak kepada panduan hidup yang paling benar: Al Quran.
Dengan mengajak mereka menghafalkan Al Quran (sekali lagi, dengan cara yang benar dan komprehensif, bukan asal hafal di mulut), kita sesungguhnya sedang mendidik sebuah generasi Qurani, yang menjadikan Al Quran sebagai panduan hidup mereka.
Ketika mereka menghafalkan Al Quran, sesungguhnya mereka sedang menyimpan ‘cahaya’ di dada mereka, dan cahaya itulah yang akan menerangi jalan mereka dalam setiap episode kehidupan.
Jadi, marilah kita bulatkan tekad untuk menyimpan baris-baris kalimat cinta itu di dada kita, di dada anak-anak kita — untuk menyimpan ‘cahaya’ itu.
